Loading ALDA

Memuat ALDA...

Artikel

Mengenal Prinsip Gestalt dalam Desain: Ketika Mata Melihat Lebih dari Sekadar Bentuk

5 min read
Alya Faradisa
Mengenal Prinsip Gestalt dalam Desain: Ketika Mata Melihat Lebih dari Sekadar Bentuk

Pelajari prinsip Gestalt dalam desain seperti proximity, similarity, continuity, closure, dan figure-ground serta penerapannya dalam desain komunikasi visual

prinsip-gestalt-dalam-desain-komunikasi-visual

Mengenal Prinsip Gestalt dalam Desain: Ketika Mata Melihat Lebih dari Sekadar Bentuk

Pernahkah kamu melihat sebuah desain dan langsung memahami bahwa beberapa elemen di dalamnya saling berhubungan, meskipun tidak ada garis yang menghubungkan semuanya?

Atau pernah melihat sebuah logo yang bentuknya sebenarnya tidak lengkap, tetapi otak tetap mampu mengenali gambar tersebut?

Hal tersebut bukan sekadar kebetulan. Cara manusia melihat dan mengorganisasi informasi visual memiliki pola tertentu. Dalam dunia desain komunikasi visual, pola tersebut salah satunya dapat dipahami melalui Teori Gestalt.

Gestalt membantu desainer memahami bagaimana audiens mempersepsikan hubungan antara satu elemen visual dengan elemen lainnya. Dengan memahami prinsip ini, desainer dapat menyusun bentuk, warna, tipografi, gambar, dan ruang sehingga sebuah desain tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga lebih mudah dipahami.

Apa Itu Gestalt?

Sumber : https://www.fedex.com

Kata Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang secara umum berkaitan dengan bentuk atau keseluruhan. Dalam konteks persepsi visual, teori Gestalt menjelaskan kecenderungan manusia untuk memahami elemen sebagai sebuah kesatuan yang terorganisasi, bukan sekadar kumpulan bagian yang berdiri sendiri. Teori ini dikembangkan pada awal abad ke-20 oleh psikolog seperti Max Wertheimer, Wolfgang Köhler, dan Kurt Koffka. Dalam perkembangannya, pemikiran Gestalt kemudian banyak digunakan untuk memahami bagaimana manusia mengorganisasi informasi visual. 

 Sederhananya :

Gestalt berbicara tentang bagaimana otak kita melihat hubungan sebelum melihat setiap bagian secara terpisah. 

 

Inilah yang membuat prinsip Gestalt sangat relevan dengan desain komunikasi visual.

Sebuah poster, logo, kemasan, website, atau konten media sosial terdiri dari banyak elemen. Jika semua elemen tersebut diletakkan tanpa mempertimbangkan hubungan visualnya, desain dapat terasa berantakan dan sulit dipahami. Sebaliknya, ketika elemen-elemen tersebut disusun berdasarkan cara manusia memersepsikannya, desain dapat terasa lebih teratur dan komunikatif. 

Mengapa Prinsip Gestalt Penting dalam Desain?

Desain komunikasi visual pada dasarnya merupakan aktivitas menyampaikan pesan melalui bahasa visual. Warna, bentuk, tipografi, ilustrasi, foto, dan tata letak bukan hanya digunakan untuk membuat desain menjadi indah, tetapi juga untuk membantu audiens memahami informasi.

Pada media promosi, misalnya, audiens perlu mengetahui mana judul, mana gambar produk, mana informasi pendukung, dan mana ajakan untuk bertindak.

Prinsip Gestalt dapat membantu desainer mengatur hubungan antar-elemen tersebut sehingga terbentuk hierarki visual yang lebih jelas juga menempatkan Gestalt sebagai salah satu dasar penting dalam mengorganisasi elemen visual agar media promosi lebih terstruktur dan mudah dipahami. 

Dengan kata lain, Gestalt bukan sekadar teori tentang “cara membuat desain terlihat bagus”. Gestalt membantu menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Bagaimana audiens akan melihat dan memahami desain ini?”
Sumber : Pinterest

1. Proximity: Ketika Jarak Menciptakan Hubungan

Proximity atau kedekatan merupakan prinsip yang menjelaskan bahwa elemen-elemen yang ditempatkan berdekatan cenderung dipersepsikan sebagai satu kelompok. Bayangkan sebuah poster yang memiliki beberapa informasi. Jika nama produk, harga, dan deskripsi produk ditempatkan berdekatan, audiens secara alami akan menganggap ketiganya memiliki hubungan. Sebaliknya, jika informasi tersebut tersebar jauh tanpa alasan yang jelas, audiens mungkin kesulitan memahami mana informasi yang saling berkaitan.

Contoh dalam desain

Proximity dapat digunakan untuk:

  • mengelompokkan judul dan subjudul;
  • menghubungkan foto produk dengan deskripsinya;
  • mengelompokkan informasi kontak;
  • memisahkan satu kelompok informasi dengan kelompok lainnya;
  • mengatur navigasi pada website atau aplikasi.

Prinsip ini terlihat sederhana, tetapi sangat berpengaruh terhadap keterbacaan sebuah desain.

Semakin dekat elemen yang berhubungan, semakin kuat kemungkinan audiens melihatnya sebagai satu kelompok.

2. Similarity: Kesamaan yang Membentuk Kelompok

Prinsip similarity atau kesamaan menjelaskan bahwa elemen yang memiliki karakter visual serupa cenderung dianggap sebagai bagian dari kelompok yang sama.

Kesamaan tersebut dapat muncul melalui:

  • warna;
  • bentuk;
  • ukuran;
  • tekstur;
  • tipografi;
  • orientasi;
  • atau gaya visual.

Misalnya, dalam sebuah website terdapat beberapa tombol dengan warna dan bentuk yang sama. Tanpa harus diberi penjelasan panjang, pengguna dapat memahami bahwa tombol-tombol tersebut memiliki fungsi atau kategori yang serupa.

Dalam branding, prinsip similarity juga sangat penting. Penggunaan warna, tipografi, bentuk, dan elemen visual yang konsisten dapat membantu membangun identitas sebuah merek di berbagai media. Karena itu, similarity bukan hanya membuat desain terlihat konsisten. Prinsip ini juga membantu audiens mengenali hubungan antara berbagai elemen visual.

3. Continuity: Membantu Mata Menemukan Arah

Pernah melihat sebuah desain yang secara tidak sadar membuat mata bergerak dari satu titik menuju titik lainnya?

Itulah salah satu penerapan continuity atau kontinuitas. Prinsip ini menjelaskan bahwa mata manusia cenderung mengikuti garis, arah, atau pola yang berkesinambungan. Desainer dapat memanfaatkan prinsip ini untuk mengarahkan perhatian audiens. Misalnya, sebuah garis dapat membawa mata dari judul menuju gambar produk, kemudian menuju informasi harga dan akhirnya ke tombol call-to-action.

Dalam desain digital, prinsip continuity juga dapat diterapkan melalui susunan menu, kolom, daftar produk, atau alur informasi. Disimpulkan bahwa kontinuitas dapat membantu mata berpindah dari satu objek ke objek lainnya secara lebih halus. 

Mengapa continuity penting?

Karena desain tidak hanya menentukan apa yang dilihat, tetapi juga dapat memengaruhi urutan bagaimana sesuatu dilihat. Dengan demikian, continuity dapat membantu menciptakan alur visual atau visual flow dalam sebuah desain.

4. Closure: Ketika Otak Melengkapi Bentuk yang Hilang

Salah satu prinsip Gestalt yang paling menarik adalah closure atau penutupan. Closure terjadi ketika manusia cenderung melengkapi bagian visual yang sebenarnya tidak lengkap sehingga tetap dapat mengenali keseluruhan bentuk. Misalnya, sebuah lingkaran tidak digambar secara utuh. Meskipun terdapat bagian yang hilang, otak tetap dapat mempersepsikannya sebagai lingkaran. Desainer dapat memanfaatkan kecenderungan tersebut untuk menciptakan visual yang minimalis sekaligus menarik.

Prinsip closure banyak ditemukan dalam desain logo, simbol, ikon, dan ilustrasi. Karena audiens secara mental melengkapi informasi yang hilang, desain dapat menyampaikan gagasan tanpa harus menggambarkan semuanya secara literal. 

Closure dan kreativitas

Menariknya, closure dapat membuat audiens ikut “berpartisipasi” dalam memahami sebuah desain. Desain tidak memberikan seluruh jawaban secara langsung. Sebagian informasi sengaja dibiarkan untuk dilengkapi oleh persepsi audiens. Di sinilah desain dapat terasa lebih menarik karena audiens tidak hanya melihat, tetapi juga menafsirkan.

5. Figure-Ground: Membedakan Objek dan Latar

Prinsip figure-ground berkaitan dengan kemampuan manusia dalam membedakan objek utama atau figure dari latar belakang atau ground.

Dalam sebuah poster, misalnya, teks utama harus dapat dibedakan dengan jelas dari latar belakangnya. Jika warna teks dan background memiliki kontras yang terlalu rendah, informasi akan sulit dibaca. Sebaliknya, perbedaan yang cukup jelas dapat membantu objek utama menjadi lebih menonjol.

Figure-ground juga dapat digunakan secara kreatif. Sebuah bentuk dapat dibuat seolah-olah menjadi objek utama pada satu sisi, tetapi berubah menjadi bagian dari background ketika dilihat dari sudut pandang lain. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa persepsi visual tidak selalu sesederhana “objek di depan dan background di belakang”.

Dalam desain komunikasi visual, figure-ground membantu desainer menentukan mana yang harus menjadi pusat perhatian dan mana yang berfungsi sebagai pendukung.

Gestalt Bukan Sekadar Lima Prinsip

Lima prinsip di atas proximity, similarity, continuity, closure, dan figure-ground merupakan beberapa prinsip yang sering digunakan dalam pembahasan desain komunikasi visual. Namun, penerapan prinsip Gestalt dalam desain dapat lebih luas.

Beberapa literatur dan pembahasan desain juga mengenalkan prinsip seperti symmetry, law of experience, common region, dan prägnanz.

Hal ini menunjukkan bahwa Gestalt bukanlah sekadar daftar aturan yang harus diikuti secara kaku. Gestalt lebih tepat dipahami sebagai cara untuk memahami kecenderungan manusia dalam mengorganisasi persepsi visual. Karena itu, desainer tidak harus menggunakan satu prinsip saja. Beberapa prinsip dapat bekerja secara bersamaan dalam satu karya.

Ketika Beberapa Prinsip Gestalt Bekerja Bersamaan

Bayangkan sebuah poster promosi makanan. Judul dan subjudul ditempatkan berdekatan sehingga membentuk satu kelompok (proximity).

Beberapa informasi menggunakan warna yang sama sehingga terlihat memiliki hubungan (similarity).

Garis atau arah visual membawa mata dari judul menuju foto produk (continuity).

Logo menggunakan bentuk sederhana yang sebagian tidak lengkap tetapi tetap dapat dikenali (closure).

Sementara itu, foto produk dibuat memiliki kontras yang cukup tinggi terhadap background sehingga menjadi fokus utama (figure-ground).

Dalam satu desain, kelima prinsip tersebut dapat bekerja secara bersamaan. Hasilnya bukan hanya komposisi yang lebih rapi, tetapi juga sebuah alur persepsi yang membantu audiens memahami pesan.

Gestalt dalam Desain Komunikasi Visual Sehari-hari

Menariknya, kita sebenarnya sering berinteraksi dengan prinsip Gestalt tanpa menyadarinya. Prinsip tersebut dapat ditemukan dalam berbagai media, seperti:

  • Logo, terutama ketika bentuk tidak digambarkan secara lengkap.
  • Poster, melalui pengelompokan informasi dan hierarki visual.
  • Kemasan, melalui hubungan antara nama produk, ilustrasi, dan informasi pendukung.
  • Website, melalui pengelompokan navigasi dan konten.
  • Aplikasi, melalui kesamaan bentuk dan warna tombol.
  • Media sosial, melalui konsistensi visual antar-konten.
  • Iklan, melalui pengaturan objek utama dan background.

Artinya, Gestalt bukan teori yang hanya relevan di ruang kelas. Ia hadir dalam banyak keputusan visual yang kita temui setiap hari.

Gestalt sebagai Alat, Bukan Aturan Mutlak

Meskipun prinsip Gestalt sangat berguna, bukan berarti semua desain harus mengikuti aturan tersebut secara kaku. Desain adalah bidang yang juga melibatkan kreativitas, konteks, budaya, tujuan komunikasi, dan karakter audiens. Terkadang, desainer justru sengaja melanggar sebuah prinsip untuk menciptakan kejutan visual. Misalnya, sebuah elemen dapat dibuat sangat berbeda dari elemen lainnya untuk menciptakan perhatian. Sebuah bentuk dapat sengaja dibuat tidak seimbang untuk menghasilkan kesan dinamis.

Karena itu, prinsip Gestalt sebaiknya dipandang sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan desain, bukan sebagai formula yang membatasi kreativitas. Memahami aturan terlebih dahulu justru dapat membantu desainer mengetahui kapan aturan tersebut perlu diterapkan dan kapan dapat sengaja dilanggar.

Kesimpulan

Prinsip Gestalt membantu kita memahami bahwa manusia tidak melihat desain hanya sebagai kumpulan warna, bentuk, gambar, dan teks.

Otak cenderung mencari hubungan, pola, kelompok, dan struktur di antara elemen-elemen tersebut. Dalam desain komunikasi visual, pemahaman terhadap proximity, similarity, continuity, closure, dan figure-ground dapat membantu desainer menciptakan komposisi yang lebih terstruktur, mudah dipahami, dan mampu mengarahkan perhatian audiens.

Pada akhirnya, desain yang efektif bukan hanya tentang menempatkan sebanyak mungkin elemen ke dalam sebuah bidang. Desain adalah tentang mengatur hubungan antar-elemen sehingga pesan dapat dipahami dengan cara yang paling efektif.

Dan di situlah prinsip Gestalt menjadi menarik. Karena terkadang, apa yang tidak kita gambar pun dapat dilihat oleh mata. Apa yang tidak kita hubungkan pun dapat dianggap berhubungan. Dan apa yang terlihat sebagai bagian-bagian terpisah dapat dipahami sebagai satu kesatuan. Itulah kekuatan persepsi. Dan itulah alasan mengapa memahami cara manusia melihat menjadi salah satu bagian penting dalam memahami cara kerja desain.



Bagikan artikel ini

👋 Halo! Ada yang bisa kami bantu?